HADIS TENTANG MAKANAN ORANG MUKMIN DIAKHIR ZAMAN, DIKETIKA MENJELANG KELUARNYA AD-DAJJAL

Di dalam bukunya yang berjudul “Kisah Dajjal dan Turunnya Nabi Isa ‘alahissalam Untuk Membunuhnya”, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah menulis sebagai berikut:

Dalam Hadist Riwayat Ahmad

“Asma’ berkata, “Akan tetapi mereka tidak mendapatkan apa-apa sehingga aku khawatir terkena musibah kelaparan, dan apa yang akan dimakan oleh kaum mukmin pada waktu itu?” Jawab Nabi صلى الله عليه و سلم :

‎يَجْزِيهِمْ مَا يَجْزِي أَهْلَ السَّمَاءِ

“Allah سبحانه و تعالى mencukupkan kepada mereka dengan makanan yang diberikan kepada penduduk langit (Malaikat).” (HR. Ahmad No. 26298)

Asma’ berkata, “Wahai Nabi Allah, bahwasanya Malaikat tidak makan dan tidak minum.” Jawab Nabi صلى الله عليه و سلم :

“Akan tetapi mereka membaca tasbih dan mensucikan Allah سبحانه و تعالى , dan itulah makanan dan minuman kaum beriman saat itu, tasbih dan taqdis.” (HR. Abdul Razzaq, ath-Thayalisi, Ahmad, Ibnu Asakir. Ibnu Katsir berkata, “Isnad ini merupakan isnad yang tidak ada cacat (laa ba’sa bihi).” (“Kisah Dajjal”—Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani; Pustaka Imam Asy-Syafi’i; hlm. 94-95)

Yang dimaksud oleh Asma’ binti Yazid Al-Anshariyyah dengan “mereka tidak mendapatkan apa-apa sehingga aku khawatir terkena musibah kelaparan” ialah saat menjelang Ad-Dajjal keluar untuk menebar fitnah di tengah ummat manusia. Khususnya di dalam suatu hadits yang juga dijelaskan oleh Syaikh Al-Albani sebagai berikut:

“Sesungguhnya tiga tahun sebelum kemunculan Ad-Dajjal, di tahun pertama, langit menahan sepertiga air hujannya, bumi menahan sepertiga hasil tumbuhannya, dan di tahun kedua, langit menahan dua pertiga air hujannya, dan bumi juga menahan dua pertiga hasil tanamannya. Dan di tahun ketiga langit menahan seluruh yang ada padanya dan begitu pula bumi, sehingga binasalah setiap yang memiliki gigi pemamah dan kuku.” (“Kisah Dajjal”— Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani; Pustaka Imam Asy-Syafi’i; hlm. 92)

Jika Nabi صلى الله عليه و سلم menyatakan bahwa “sehingga binasalah setiap yang memiliki gigi pemamah dan kuku”, itu berarti setiap hewan yang memberikan protein utama bagi manusia menjadi binasa. Seperti di antaranya ialah: kambing, domba, sapi, kerbau dan unta. Dan sebab itulah Asma’ menjadi khawatir apa yang bakal menjadi makanan kaum beriman di masa itu. Lalu Nabi صلى الله عليه و سلم menjelaskan bahwa makanan kaum mukmin di masa itu ialah makanan penghuni langit, yaitu para malaikat. Dalam hal ini berupa tasbih dan taqdis.

Masya Allah…! Nabi صلى الله عليه و سلم memberi tahu kita yang hidup di masa menjelang datangnya puncak fitnah, yakni Ad-Dajjal, bahwa jenis makanan orang beriman adalah semisal dengan makanan para malaikat. Bayangkan…! Betapa pentingnya kedudukan dan peranan dzikrullah di masa fitnah menjelang hadirnya Ad-Dajjal.

Sedemikian pentingnya mengingat Allah سبحانه و تعالى (dzikrullah) sehingga jika dilakukan dengan baik dan benar, maka ia dapat menggantikan fungsi makanan,

CUBA KITA LIHAT TENTANG BAGAIMANA CARA UNTUK INGAT KEPADA ALLAH YANG TELAH ALLAH FIRMANKAN DIDALAM AL-QURAN

2.Surah Al-Baqarah ayat 198

Tidaklah menjadi salah, kamu mencari limpah kurnia dari Tuhan kamu (dengan meneruskan perniagaan ketika mengerjakan Haji). Kemudian apabila kamu bertolak turun dari padang Arafah (menuju ke Muzdalifah) maka sebutlah nama Allah di tempat Masy'ar Al-Haraam (di Muzdalifah),

DAN INGATLAH KEPADA ALLAH DENGAN MENYEBUTNYA SEBAGAIMANA IA TELAH MEMBERIKAN PETUNJUK HIDAYAH KEPADA MU

dan sesungguhnya kamu sebelum itu adalah dari golongan orang-orang yang SALAH JALAN IBADATNYA.

Sesungguhnya sebelum daripada seseorang itu melakukan cara nak ingat kepada Allah sepertimana yang telah Allah firmankan “DAN INGATLAH KEPADA ALLAH DENGAN MENYEBUTNYA SEBAGAIMANA IA TELAH MEMBERIKAN PETUNJUK HIDAYAH KEPADA MU” apa yang telah dilakukan tersebut adalah “SALAH JALAN IBADATNYA”

BERTASBIH MENSUCIKAN NAMA ALLAH DENGAN MENYEBUT-NYEBUT DENGAN LIDAH DAN HATI AKAN NAMA TUHANNYA

34.Surah Saba' ayat 13

Golongan jin itu membuat untuk Nabi Sulaiman apa yang ia kehendaki dari bangunan-bangunan yang tinggi, dan patung-patung, dan pinggan-pinggan hidangan yang besar seperti kolam, serta periuk-periuk besar yang tetap di atas tukunya. (Setelah itu Kami perintahkan):

"Beramalah kamu wahai keluarga Daud untuk bersyukur!"

Dan sememangnya sedikit sekali di antara hamba-hambaKu yang bersyukur.

33.Surah Al-'Aĥzāb (Ayat 41 dan 48)

41. Wahai orang-orang yang beriman, (untuk bersyukur kepada Allah) ingatlah serta sebutlah nama Allah dengan ingatan serta sebutan yang sebanyak-banyaknya;
48. Dan bertasbihlah kamu kepadaNya pada waktu pagi dan petang.

BAGAIMANA CARA NAK BERTASBIH (MEMUJI) MENSUCIKAN ALLAH SEPERTIMANA YANG DIKEHENDAKI OLEH ALLAH

Makna bertasbih - memanjatkan puji-pujian (memuji) kpd Allah.

Surah Al-'Ala

  1. Bertasbihlah mensucikan nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi (dari segala sifat-sifat kekurangan), -
  2. Yang telah menciptakan (sekalian makhlukNya) serta menyempurnakan kejadiannya dengan kelengkapan yang sesuai dengan keadaannya;
  3. Dan Yang telah mengatur (keadaan makhluk-makhlukNya) serta memberikan hidayah petunjuk (ke jalan keselamatannya dan kesempurnaannya);
  4. Dan Yang telah mengeluarkan tumbuh-tumbuhan untuk binatang-binatang ternak,
  5. Kemudian Ia menjadikan (tumbuh-tumbahan yang menghijau) itu kering - (berubah warnanya) kehitam-hitaman.
  6. Kami sentiasa menjadikan engkau (wahai Muhammad) dapat membaca (Al-Quran yang diturunkan kepadamu - dengan perantaraan jibril), sehingga engkau (menghafaznya dan) tidak lupa,
  7. Kecuali apa yang dikehendaki Allah engkau lupakan; sesungguhnya Ia mengetahui (segala keadaan yang patut berlaku), dan yang tersembunyi.
  8. Dan Kami tetap memberi kemudahan kepadamu untuk (melaksanakan segala perkara) Ugama yang mudah diterima oleh akal yang sihat.
  9. Oleh itu berilah peringatan (kepada umat manusia dengan ajaran Al-Quran), kalau-kalau peringatan itu berguna (dan sudah tentu berguna);
  10. Kerana orang yang takut (melanggar perintah Allah) akan menerima peringatan itu;
  11. Dan (sebaliknya) orang yang sangat celaka akan menjauhinya,
  12. Dia lah orang yang akan menderita bakaran neraka yang amat besar (azab seksanya),
  13. Selain dari itu, ia tidak mati di dalamnya dan tidak pula hidup senang.
  14. Sesungguhnya berjayalah orang yang - setelah menerima peringatan itu - berusaha membersihkan dirinya (dengan taat dan amal yang soleh),
  15. Dan menyebut-nyebut dengan lidah dan hatinya akan nama Tuhannya serta mangerjakan sembahyang (dengan khusyuk).
  16. (Tetapi kebanyakkan kamu tidak melakukan yang demikian), bahkan kamu utamakan kehidupan dunia;
  17. Padahal kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal.
  18. Sesungguhnya (keterangan-keterangan yang dinyatakan) ini ada (disebutkan) di dalam Kitab-kitab yang terdahulu, -
  19. Iaitu Kitab-kitab Nabi Ibrahim dan Nabi Musa.

BERTASBIH MENSUCIKAN NAMA TUHANMU DENGAN MENYEBUT-NYEBUT DENGAN LIDAH DAN HATI AKAN NAMA TUHANMU

CARA UNTUK MENYEBUT ALLAH SECARA LISAN BOLEH DILAKUKAN DENGAN MELAKSANAKAN PERINTAH ALLAH

73.Surah Al-Muzzammil ayat 8

Dan sebutlah akan nama Tuhanmu (terus menerus siang dan malam), serta tumpukanlah kepadaNya dengan sebulat-bulat tumpuan.

Apa yang tersurat "sebutlah akan nama Tuhanmu (terus menerus siang dan malam), serta tumpukanlah kepadaNya dengan sebulat-bulat tumpuan" akan berlaku setelah kita melaksanakan apa yang tersirat.

Diperingkat awal latihan kita mesti melakukan apa yang tersirat iaitu menumpukan dengan sebulat-bulat tumpuan kepada sifat-sifat ketuhanan yang terdapat keatas badan diri kita sendiri yang kita telah tahu dari penjelasan Allah bahawa segala sifat ketuhanan tersebut adalah sifat ketuhanan Allah.

Ini telah diperjelaskan oleh Allah seperti didalam firmanNya

34.Surah Saba' ayat 27

Katakanlah lagi: "Tunjukkanlah kepadaku sifat-sifat ketuhanan yang ada pada makhluk-makhluk yang kamu hubungkan dengan Allah sebagai sekutu-sekutuNya. (Sedang merasakan sifat ketuhanan sebagai sifat diri sendiri dan sebagai sifat makhlok selain dari Allah membawa makna sedang mempertuhankan sesuatu selain daripada Allah). Tidak ada pada sesuatu makhluk pun sifat-sifat itu, bahkan yang mempunyai sifat-sifat ketuhanan ialah Allah Yang Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana".

Setelah kita mula berakal sifat ketuhanan yang ternyata kepada diri kita mula dirasakan sebagai sifat badan diri kita sendiri. Seterusnya semakin kita membesar segala sifat ketuhanan yang ternyata kepada makhlok yang lain juga mula dirasakan sebagai sifat makhlok tersebut.

Semasa kita membaca firman Allah seperti diatas seperti didalam Surah Saba' (Ayat 27) khasnya dan banyak lagi keterangan didalam surah dan ayat-ayat yang lain amnya. Akan lahirlah didalam ilmu dan pengetahuan kita yang "SEGALA SIFAT KETUHANAN YANG ADA PADA BADAN DIRI SENDIRI DAN YANG TERNYATA KEPADA MAKHLOK YANG LAIN, ITU ADALAH SIFAT KETUHANAN ALLAH"

Dengan ilmu dan pengetahuan yang demikian, tidak akan menghilangkan rasa keberadaan atau keakuan kepada badan diri sendiri dan kepada makhlok yang lain..

Ini telah ditegaskan oleh Allah didalam firmanNya didalam Surah Saba' Ayat 27

"TUNJUKKANLAH KEPADAKU SIFAT-SIFAT KETUHANAN YANG ADA PADA MAKHLOK-MAKHLOK YANG KAMU HUBUNGKAN DENGAN ALLAH SEBAGAI SEKUTU-SEKUTUNYA" (sedang merasakan keberadaan diri kita sendiri dan keberadaan sesuatu selain daripada Allah)

Untuk mengajak manusia kembali kepada "HAKIKAT TAUHID YANG TELAH DITINGGALKAN" sejak dari manusia mula berakal, Allah telah mengutuskan para Nabi dan para Rasul...

34.Surah Saba' ayat 28

Dan tiadalah Kami mengutusmu (wahai Muhammad) melainkan untuk umat manusia seluruhnya, sebagai Rasul pembawa berita gembira (kepada orang-orang yang beriman), dan pemberi amaran (kepada orang-orang yang ingkar); akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (hakikat itu).

Allah telah berfirman didalam Al-Quran tentang HAKIKAT TAUHID ini sebagai peringatan kepada kesuluruhan umat manusia, sepertimana firman Allah

7.Surah Al-'A`rāf ayat 172-174

Dan (ingatlah wahai Muhammad) ketika Tuhanmu mengeluarkan zuriat anak-anak Adam (turun-temurun) dari (tulang) belakang mereka, dan Ia jadikan mereka saksi terhadap diri mereka sendiri, (sambil Ia bertanya dengan firmanNya): "Bukankah Aku tuhan kamu?" Mereka semua menjawab: "Benar (Engkaulah Tuhan kami), kami menjadi saksi". Yang demikian supaya kamu tidak berkata pada hari kiamat kelak: "Sesungguhnya kami adalah lalai (tidak diberi peringatan) tentang (hakikat tauhid) ini".

Atau supaya kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya ibu bapa kamilah yang melakukan syirik dahulu sedang kami ialah keturunan (mereka) yang datang kemudian daripada mereka. Oleh itu, patutkah Engkau (wahai Tuhan kami) hendak membinasakan kami disebabkan perbuatan orang-orang yang sesat itu?"

Dan demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat keterangan Kami satu persatu (supaya nyata segala kebenaran), dan supaya mereka kembali (kepada kebenaran).

Didalam sebuah hadis qudsi Allah telah menegaskan "INSAN ITU RAHSIA AKU, DAN AKU ADALAH RAHSIA INSAN, RAHSIA ITU ADALAH SIFAT AKU, SIFAT AKU BUKAN LAIN DARIPADA AKU"

Kembali kita membicarakan tentang bagaimana kita hendak melaksanakan perintah yang terkandung didalam firman Allah

"Dan sebutlah akan nama Tuhanmu (terus menerus siang dan malam), serta tumpukanlah kepadaNya dengan sebulat-bulat tumpuan."

Kita perlu menumpukan kepada sifat-sifat ketuhanan yang ada kepada badan diri kita sendiri seperti sifat (Ada, berkuasa, berkehrndak, mengetahui, hidup, melihat, mendengar, berkata-kata) dan lain-lain lagi

Semasa tumpuan dengan sebulat tumpuan yang dilakukan kepada sifat-sifat ketuhanan yang terdapat kepada badan diri kita sendiri.

Kita tidak boleh merasakan sifat ketuhanan tersebut sebagai sifat diri kita sendiri dan juga kita tidak boleh menyangka sifat ketuhanan tersebut sebagai sifat Allah

Untuk menumpukan sebulat-bulat tumpuan kepada sifat ketuhanan yang ada pada badan diri kita sebagai sifat ketuhanan yang bukan yang sedang dirasakan sebagai sifat badan diri kita sendiri dan juga bukan sifat ketuhanan yang bukan yang sedang disangka sebagai sifat ketuhanan Allah,

Apa yang perlu dilakukan ialah mengulang-ngulang sifir "BUKAN AKU BUKAN DI SANGKA ALLAH" diluar daripada semasa kita melaksanakan perintah Allah

"Dan sebutlah akan nama Tuhanmu (terus menerus siang dan malam), serta tumpukanlah kepadaNya dengan sebulat-bulat tumpuan."

Mengulang sifir "BUKAN AKU BUKAN DI SANGKA ALLAH" ini perlu dilakukan sehingga apabila dilakukan penumpuan sebulat tumpuan kepada sifat-sifat ketuhanan yang ada pada badan diri sendiri, sifat ketuhanan tersebut sudah dapat dirasakan sebagai sifat yang bulan sedang dirasakan sebagai sifat badan diri kita sendiri dan bukan sifat ketuhanan yang sedang disangka sebagai sifay ketuhanan Allah,

Sudah dan Sedang berlaku didalam keadaan sudah merasakan dengan tidak ada berlaku lagi sedang berlegar-legar didalam fikiran kita, tidak lagi terlintas didalam lintasan hati kita, tidak lagi bermain-main didalam kata-kata kita.

Bila ditumpu sahaja kepada sifat ketuhanan yang ada pada badan diri sendiri, sifat ketuhanan tersebut sudah dirasakan sebagai sifat ketuhanan yang bukan yang sedang dirasakan sebagai sifat badan diri sendiri dan bukan sifat ketuhanan yang bukan yang sedang disangka sebagai sifat ketuhanan Allah yang langsung tidak ada didalam akal fikiran kita, langsung tidak ada didalam lintasan hati kita dan tidak bemain-main didalam petcakapan kita..

Setelah dapat merasa dan menumpukan dengan sebulat-bulat tumpuan kepada sifat ketuhanan yang ada pada badan diri kita sendiri yang bukan yang sedang dirasakan sebagai sifat badan diri sendiri dan yang bukan yang sedang disangka sebagai sifat ketuhanan Allah, kita tidak perlu lagi mengulang-ngulang sifir "BUKAN AKU BUKAN DI SANGKA ALLAH"

Tumpukan sebulat-bulat tumpuan kepada sifat-sifat ketuhanan yang bukan yang sedang dirasakan sebagai sifat badan diri sendiri dan sifat ketuhanan yang bukan yang sedang disangka sebagai sifat Allah.

Pada ketika, saat atau waktu yang sama semasa sedang menumpukan dengan sebulat-bulat tumpuan kepada sifat-sifat ketuhanan yang bukan yang sedang dirasakan sebagai sifat badan diri sendiri dan sifat ketuhanan yang bukan yang sedang disangka sebagai sifat Allah., sebutlah Allah dan tujukan sebutan Allah tersebut kepada sifat-sifat ketuhanan yang bukan yang sedang dirasakan sebagai sifat badan diri sendiri dan sifat ketuhanan yang bukan yang sedang disangka sebagai sifat Allah.

Setelah berlakunya tumpu sebulat tumpuan dengan menyebut Allah didalam ketika atau saat atau satu masa yang sama inilah akan berlaku penyaksian dan pengakuan bahawa sifat-sifat ketuhanan yang bukan yang sedang dirasakan sebagai sifat badan diri sendiri dan sifat ketuhanan yang bukan yang sedang disangka sebagai sifat Allah adalah sifat ketuhanan Allah dimana tumpuan menjadi sebagai penyaksian (iaitu sedang menyaksikan) dan menyebut Allah menjadi sebagai pengakuan.

Diketika inilah dengan jelas dan nyata sedang berlaku firman Allah

34.Surah Saba' ayat 27

Katakanlah lagi: "Tunjukkanlah kepadaku sifat-sifat ketuhanan yang ada pada makhluk-makhluk yang kamu hubungkan dengan Allah sebagai sekutu-sekutuNya. (Sedang merasakan sifat ketuhanan sebagai sifat diri sendiri dan sebagai sifat makhlok selain dari Allah membawa makna sedang mempertuhankan sesuatu selain daripada Allah). Tidak ada pada sesuatu makhluk pun sifat-sifat itu, bahkan yang mempunyai sifat-sifat ketuhanan ialah Allah Yang Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana".

PENYAKSIAN DAN PENGAKUAN KEPADA SIFAT KETUHANAN ALLAH AKAN BERLAKU SETELAH SESEORANG ITU MENYEBUT ALLAH DIDALAM SAAT ATAU DETIK YANG SAMA DENGAN SEDANG MENUMPUKAN DENGAN SEBULAT-BULAT TUMPUAN KEPADA SIFAT KETUHANAN YANG BUKAN YANG SEDANG DIRASAKAN SEBAGAI SIFAT BADAN DIRI SENDIRI DAN YANG BUKAN YANG SEDANG DISANGKA SEBAGAI SIFAT KETUHANAN ALLAH...

Diperingkat permulaan latihan dimulakan dengan menumpukan dengan sebulat-bulat tumpuan kepada sifat ketuhanan yang terasa pada badan diri sendiri

Jangan dirasakan sifat ketuhanan tersebut sebagai sifat badan diri sendiri

Jangan disangka sifat ketuhanan tersebut sebagai sifat ketuhanan Allah

Ulang-ulangkan menyebut "BUKAN AKU BUKAN DI SANGKA ALLAH" sebelum dari kita menumpukan dengan sebulat-bulat tumpukan kepada sifat ketuhanan yang terdapat pasa badan diri sendiri sehingga berlakunya apabila ditumpukan sebulat-bulat tumpuan kepada sifat ketuhanan yang ada pada badan diri tersebut sudah dapat dirasakan sebagai bukan sifat ketuhanan yang sedang dirasakan sebagai sifat badan diri sendiri dan bukan sifat ketuhanan yang sedang disangka sebagai sifat Allah telah berlaku dengan tidak berlaku didalam fikiran kita, tidak berlaku didalam lintasan hati kita dan tidak lagi berlaku didalam lisan percakapan kita.

Tumpu sahaja kepada sifat ketuhanan yang sedang ditumpukan dengan sebulat-bulat tumpuan sifat ketuhanan tersebut sudah dengan sendiri telah ditumpukan sebagai sifat ketuhanan yang bukan yang sedang dirasajan sebagai sifat badan diri kita sendiri dan bukan sifat ketuhanan yang bukan yang sedang disangka sebagai sifat ketuhanan Allah.

Apabila sudah boleh berlaku sedemikian rupa, tidak lagi perlu mengulang-ngulang perlataan "BUKAN AKU BUKAN DI SANGKA ALLAH TERSEBUT"

Penumpuan bukan sahaja boleh dilakukan kepada sifat-sifat ketuhanan sahaja malah boleh ditumpukan kepada samada zat, sifat, nama atau perbuatan seperti firman Allah

28.Surah Al-Qaşaş ayat 88

Dan janganlah engkau menyembah tuhan yang lain bersama-sama Allah. Tiada Tuhan melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu binasa melainkan Zat Allah. BagiNyalah kuasa memutuskan segala hukum, dan kepadaNyalah kamu semua dikembalikan.

55.Surah Ar-Raĥmān ayat 26-27

Segala yang ada di muka bumi itu binasa: Dan akan kekallah Zat Tuhanmu yang mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan:

3.Surah 'Āli `Imrān ayat 163

Mereka itu (yang menurut keredaan Allah, dan yang mendapat kemurkaanNya), mempunyai tingkatan-tingkatan (pahala atau dosa yang berlainan) di sisi Allah; dan Allah Maha Melihat akan segala yang mereka kerjakan.

2.Surah Al-Baqarah ayat 127

Dan (ingatlah) ketika Nabi Ibrahim bersama-sama Nabi Ismail meninggikan binaan asas-asas (tapak) Baitullah (Kaabah) itu, sambil keduanya berdoa dengan berkata: "Wahai Tuhan kami! Terimalah daripada kami (amal kami); sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar, lagi Maha mengetahui;

7.Surah Al-'A`rāf ayat 180

Dan Allah mempunyai nama-nama yang baik (yang mulia), maka serulah (dan berdoalah) kepadaNya dengan menyebut nama-nama itu, dan pulaukanlah orang-orang yang berpaling dari kebenaran dalam masa menggunakan nama-namaNya. Mereka akan mendapat balasan mengenai apa yang mereka telah kerjakan.

27.Surah An-Naml ayat 88

Dan engkau melihat gunung-ganang, engkau menyangkanya tetap membeku, padahal ia bergerak cepat seperti bergeraknya awan; (demikianlah) perbuatan Allah yang telah membuat tiap - tiap sesuatu dengan serapi-rapi dan sebaik-baiknya; sesungguhnya Ia Amat mendalam PengetahuanNya akan apa yang kamu lakukan.

Yang pentingnya semasa melakukan sebulat-bulat penumpuan, tumpuan yang dilakukan tersebut bukan ditumpukan kepada samada kepada zat, sifat, nama atau perbuatan badan diri kita sendiri atau bukan kepada zat, sifat, nama atau perbuatan yang sedang disangka sebagai zat, sifat, nama atau perbuatan Allah.

Untuk menyebut Allah didalam hati yang tanpa suara, tanpa huruf dan tanpa kata-kata bolehlah dilakukan mengikut apa yang tersurat dan yang tersirat didalam sabda Rasulullah saw

Saidina Ali Rodziallah hu'an hu Bertanya kepada Rasulullah bagaimana aku nak hampir dengan Allah ya Rasulullah. Rasulullah menjawab mari dekat dengan aku ya Ali hingga bertemu lutut.

Hikmah dari cara menyebut Allah didalam keadaan lidah yang tertongkat kelangit-langit

Semasa kita menyebut Allah secara lisan, lidah yang akan bergerak

Apabila Rasulullah saw menyeru supaya menyebut Allah didalam keadaan menungkatkan lidah kelangit-langit akan menyebabkan lidak tidak lagi akan bergerak semasa kita menyebut Allah kerana telah ditungkatkan kelangit-langit.

Apa yang tersirat disini akan ada satu anggota lain yang akan menggantikan pergerajan lidah diketika kita menyebut Allah didalam keadaan lidah yang tertongkat kelangit-langit

Pergerakan anggota tersebutlah yang menunjukkan sedang menyebut Allah didalam hati, sepertimana bergeraknya lidah semasa menyebut Allah secara lisan..

Hikmah daripada memejamkan mata adalah untuk menumpukan sebulat-bulat tumpuan sepertimana dudalam firman Allah

73.Surah Al-Muzzammil ayat 8

Dan sebutlah akan nama Tuhanmu, serta tumpukanlah kepadaNya dengan sebulat-bulat tumpuan.

Inilah yang perlu dimuzakarahkan oleh sesiapa yang hendak melaksanakan jalan dan cara untuk menetapkan iktiqad tauhid atau jalan untuk mengenal Allah melalui apa yang tersurat dan yang tersirat didalam perintah Allah dan perintah Rasulullah saw yang tersebut.

FADZILAT ZIKIR YANG TERSEMBUNYI

Rasulullah saw pernah bersabda,
“Zikir (dengan tidak bersuara) lebih unggul dari pada zikir (dengan suara) selisih tujuh puluh kali lipat.
Jika tiba saatnya hari kiamat maka Allah akan mengembalikan semua perhitungan amal semua makhluk-makhluknya sesuai amalnya.
Para malaikat pencatat amal datang dengan membawa tulisan-tulisan mereka.
Allah berkata pada mereka , lihatlah apakah ada amalan yang tersisa pada hamba-Ku ini ?
Para malaikat itu menjawab , kami tidak meninggalkan sedikit pun amalan yang kami ketahui kecuali kami mencatat dan menulisnya.
Allah lalu berkata lagi (pada hamba-Nya itu), kamu mempunyai amal kebaikan yang hanya Aku yang mengetahuinya.
Aku akan membalas amal kebaikanmu itu.
Kebaikanmu itu berupa zikir dengan sembunyi (tak bersuara).”
( Hadis Riwayat Al-Baihaqi )
← Kembali ke Perpustakaan
🤖 BUKA AI IKTIQAD & TAUHID
Jika diminta, log masuk atau daftar ChatGPT dahulu. Selepas log masuk, projek AI Iktiqad & Tauhid akan dibuka.
⬅ Kembali ke Perpustakaan