Kekuatan spiritual bukan dari fikiran manusia, tetapi hembusan langsung dari Ilahi ke dalam dada. Hidayah, pembersihan hati, dan tuntunan — semuanya hanya dari Allah. Fail ini disusun lengkap 100% dari sumber asal tanpa pengurangan.
Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahil malikil hakim al jawadil karim alaziz rahim alladzi khalaqal insana fi ahsani takqwim wal umur bhikmatih w khalaqal jinna wal insa illa wasatu wasalamu asya mursalin wa alihibira amri. Saudara-saudara sekalian, pecinta spiritual, pada waktu yang sangat berbahagia ini, kita mencoba untuk berbicara lebih dalam tentang spiritualitas yang sekarang banyak dibahas dan diteliti di universitas-universitas Amerika maupun di Barat yang lainnya bahwa kekuatan spiritual memang sangat diperlukan di dalam era yang sangat banyak tantangan dan banyak liku-liku hidup yang semakin menekan mental setiap manusia.
Ada sebuah tawaran dalam Al-Qur'an, yaitu bagaimana kita mampu menangkap atau mendalami kekuatan itu, yaitu kekuatan ilahi yang boleh menembus ke dalam dada hati setiap orang yang menginginkannya. Kekuatan ini terkadang banyak diklaim oleh setiap orang yang ingin menjadi seorang master, seorang guru, dan apapun. Namun diingatkan oleh Allah bahwa kekuatan itu bukan dari kemauan pikiran manusia. Kekuatan itu benar-benar langsung yang dihembuskan ke dalam jiwa manusia. Inilah yang dikatakan spiritual. Spiritual muncul dari kekuatan ilahi. Sehingga pada suatu ketika paman Nabi menjelang sakaratul maut beliau didudukkan, beliau direbahkan di pangkuannya sambil hatinya berdoa bahkan barangkali setengah menuntut. Ya Allah, orang yang sangat saya cintai ini, orang yang sangat saya kagumi ini, mohon bukakanlah hatinya untuk menjadi mukmin mengikuti agama yang lurus. Kekuatan yang dilakukan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam berupa keinginan untuk membuka pamannya dalam sebuah hidayah, namun dibantah oleh Allah, "Ya Muhammad, Seorang rasul yang punya keinginan pamannya dibukanya hidayah atau terbukanya hijab kekafirannya. Allah sendiri yang membantah. Engkau tidak akan boleh memberi hidayah walaupun tamanmu yang kau cintai sekalipun. Kekuatan inilah yang di katakan bahwa spiritual itu hanya bolrh diperoleh dari Allah Subhanahu wa taala langsung ke dalam jiwa berupa hidayah maupun tuntunan. Banyak hal ini juga terjadi. Kekuatan-kekuatan ini diklaim oleh para guru-guru, oleh para pendeta-pendeta pada zaman sebelum Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, yaitu Yahudi dan Nasrani menjadikan pendeta-pendeta menjadikan rahibrah rahib-rahibnya sebagai kekuatan kedua bahwa dialah sang pembuka, dialah sang mursyid sehingga mereka menjadikan seolah-olah pengganti Tuhan atau avatar, perantara Tuhan atau bahkan menjadi Tuhan itu sendiri. Itaku ahbarum arbaban minunillah. Mereka menjadikanlah seorang arbab para rahib-rahibnya sebagai tuhan pengganti Allah subhanahu wa taala. Ini yang sebenarnya dibantah oleh Allah sendiri bahwa innaka tahdi man ahbabta wakinallah yahdi yasya. Ini saya bukakan lagi dalam sebuah ayat bahwa Allah membantanya Alqasas 56ubillahyaitan Bismillahirahmanirahim. Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada yang dikehendakinya. Di dalam surat 21, sekiranya tidaklah karena Allah dan rahmatnya Kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih dari perbuatan keji dan mungkar selama-lamanya, tetapi Allah yang akan bersihkan hati kalian. Ini sebuah penegasan bahwa tidak ada seorang pun yang mampu membersihkan hatinya sendiri, seorang yang mampu membuka hidayah sendiri, bahkan orang lain. Bantahan ini yang kadang-kadang telah dimanipulasi, telah direkaywasa sehingga seolah-olah seseorang yang mampu menghantarkan roh kita kepada Allah. Ini yang dikatakan bahwa bagaimana kita mendapatkan petunjuk, kita mendapatkan bimbingan secara langsung oleh getaran ilahi yang disusupkan ke dalam jiwa kita ini. Saudara sekalian, pada kekuatan ini maka saya memberi judul berguru kepada Allah. Mengapa berguru kepada Allah? Karena beliau adalah al-Alim. Dikatakan surah Iqra di surah e al-alaq disebutkan amamal insana maam yalam. Allah mengajarkan apa-apa yang tidak diketahui oleh manusia. Inilah sebuah penegasan bahwa berguru kepada Allah merupakan suatu hal yang sangat lumrah hal yang seharusnya terjadi kepada kita. Ditegaskan kembali bahwa auzubillahiminasyaitanirrajim bismillahirrahmanirrahim di dalam Aljasiyat ayat 3 sampai 6 dikatakan bahwa inna fisamawati wal ardilmin Sangat jelas sekali Allah mengatakan bahwa inilah kalau perhatikan penciptaan langit dan bumi merupakan ayat diperuntukkan untuk orang mukmin juga. Anda perhatikan bahwa juga kau perhatikan di dalam penciptaan kalian dan binatang yang melatang. Anda perhatikan bahwa itu adalah ayat bagi orang-orang yang memiliki keyakinan juga pergeseran sinar matahari atau pergantian siang dan malam. Jadi apapun yang terturun dari langit berupa air kemudian menumbuhkan ee tanah yang mati. di tanaman yang mati menjadi kembali subur. Sehingga Allah mengatakan juga pergeseran udara, pergeseran angin ini ayat merupakan ayat-ayat bagi orang punya akal pikiran. Allah menegaskan tilka ayatullah itu ayat-ayat Allah. Nduha alaika bilhaq. Aku bacakan untuk kalian dengan sebenar-benarnya. Allah mengajak kita membaca matahari, membaca diri kita membaca binatang melata, komodo, apakah binatang-binatang macam ular, kelabang, atau rawat, kemudian semut dan semua dikatakan tilka ayatullah natlalika bilhaq. Suatu perjalanan panjang untuk memahami ini bahwa kata-kata berguru kepada Allah banyak sekali dibantah, banyak sekali orang iri bahwa inilah Allah sendiri yang mengatakan Aku bacakan kalian untuk memberikan keterangan kepada kalian bahwa dikatakan wattaqulah wikumullah. Percayalah engkau, bertakwalah engkau kepada Allah niscaya kalian akan diajarkan oleh Allah subhanahu wa taala. Banyak pelajaran-pelajaran sebenarnya yang perlu kita dapatkan dari Allah berupa ayat-ayat, berupa kejadian-kejadian, peristiwa di dalam diri kita sendiri maupun lingkungan kita. Nah, selanjutnya tentang juga hal yang sering kita sebutkan tentang spiritual. Kita telah mendapatkan suatu potensi spiritual dalam diri kita di mana penghayatan, pengamatan tentang masalah diri. Kita akan temukan juga bagaimana Allah menuntun rasa kita, nalur kita atau garizatut tadayun, garizah atau kecenderungan kepada berketuhanan. Ini pun adalah Ayat yang akan disampaikan oleh Allah kepada jiwa kita. Dan ayat inilah yang dikatakan kita berguru kepada Allah, tidak kepada yang lain-lain. Karena yang bisa menunjukkan falan walian mursyida. Tidak ada satu pun yang mampu membuka hidayah atau memberikan petunjuk kepada manusia kecuali Allah itu sendiri. Inilah dikatakan berguru kepada Allah. Allahumma ain alaikrikaukrika Muad bin Jabal telah mendapatkan amanah dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bahwa Muaz jangan engkau lupakan doa ini. Ya Allah ajari saya berzikir kepada Engkau. Ajari saya bersyukur kepada Engkau dan ajari saya beribadah yang baik kepada Engkau. Itulah berguru kepada Allah. Kalau kita perhatikan burung-burung peterbangan pagi pergi jauh entah ke mana meninggalkan anak-anaknya di sarang. Jauh pergi untuk mencari makan lalu kembali untuk memberikan makan kepada anak-anaknya juga lebah. Kalau kita perhatikan rumah lembah yang indah dengan arsitektur yang sangat indah. Dari mana dia ketika mendapatkan suatu pengertian sehingga ia boleh membuat sesuatu yang sangat di luar pikiran kita. Ketika kita perhatikan binatang-binatang yang lainnya semua mengikuti rasa atau naluri yang bukan dari pikirannya sendiri. Allah di dalam Al-Qur'an menyebutkan, "Seekor lebah telah kami wahyukan tentang bagaimana menciptakan rumah itu. Dan Allah wahyukan kepada lebah itu sebuah aturan atau tata cara bagaimana membuat rumahnya atau sarangnya. Siapa yang mengajarkan? Allah sendiri mengatakan, "Aku yang mengajarkan. Aku yang berikan naluri sehingga dia boleh tersalurkan pengertian-pengertian yang berasal dari Allah Subhanahu wa taala." Jadi layaklah kalau dikatakan Allah itu disebut maha guru. bagi binatang maha guru bagi alam semesta. Allah pun berkata kepada alamuka walard dan Allah juga memerintahkan mewahyukan kepada langit dan bumi sehingga sang bumi dan langit mengikuti aturan-aturan Allah. Salah naluri yang sehingga dikatakan ini wahyu yang diturunkan kepada langit dan bumi. Ketika bicara bumi, seluruh isinya pun mengikuti naluri atau kehendak yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa taala. Sehingga Allah mengatakan semua apa yang ada di langit dan di bumi sabbaha lillahi ma fis samawati wal ard semua bertasbih mengikuti tuntunan-tuntunan ilahi. Bertasbih artinya total, tidak mengikuti pikirannya tetapi suci dari pikirannya sendiri, suci dari kehendaknya sendiri. Sehingga kemurnian dari bertasbih kepada Allah betul-betul tidak boleh dimengerti oleh kalian semua, kata Allah. Sehingga apa? Itu yang dikatakan dia telah mencapai taraf totalitas bagaikan anak bayi, totalitas bagaikan burung, totalitas bagaikan alam semesta. Inilah yang dikehendaki Allah bahwa kita pun harus mengikuti totalitas atas kehendak-kehendak Ilahi, totalitas atas kemauan-kemauan Ilahi. Sehingga spiritualitas itu terjadi dan terjalin Jika otak kita tidak ikut terlibat, tetapi betul-betul ruh kita banyak berhubungan, berkomunikasi dengan istilah silatun atau sambung kepada Allah. Kepada manusia kita menggunakan istilah silatun juga yang dikatakan silaturahmi. Berguru kepada Allah bukan sesuatu yang menyombongkan dirinya, tapi justru merendahkan dirinya bagaikan binatang, bagaikan alam semesta. Mereka patuh tauan aarhan. Suka atau tidak suka kita harus berguru kepada Allah. Allah telah sebutkan, "Kubacakan untuk kalian alam-alam semua ini juga dalam bentuk dirimu sendiri juga binatang yang melata, perkisaran udara itu merupakan ayat yang mesti kita baca. Kita takluk kepada Allah. Yahudi fitrah Allah. mengikuti sunatullah yang telah dihamparkan oleh Allah Subhanahu wa taala kepada kita. Berguru ini juga harus terjadi tentang bagaimana kita mendapatkan suatu kekuatan, mendapatkan sesuatu bahasa yang langsung dihembuskan ke dalam diri kita. Bahwa Allah juga berkata-kata kepada kita. Allah juga memberikan suatu informasi-informasi berupa ilham-ilham, berupa ianah, berupa istianah atau yang dikatakan Jadi sesuatu yang kita minta adalah suatu tuntunan ilahi yang dikatakan ini tuntunan iana di mana kita akan selalu mendapatkan petunjuk langsung di dalam keseharian kita, dalam doa-doa kita juga akan mendapatkan informasi tentang baik dan buruknya tentang persoalan atau problem-problem yang kita akan lakukan. Berguru kepada Allah kita sering bertanya, Bagaimana kita boleh berguru kepada Allah? Sedangkan suara Allah berbeda dengan suara apa yang kita dengar selama ini. Bahwa mana mungkin seorang manusia macam kita akan mengerti berupa ilham-ilham. Orang macam kotor seperti kita akan mengerti petunjuk-petunjuk Allah. Itu kebanyakan kalangan mengatakan semacam itu. Se akan berkata, "Kenapa lebah mampu menangkap suara Allah sehingga Dia boleh berbuat sesuatu dengan selaras dengan bahasa Allah itu sendiri. Dia buat semuanya sarangnya dengan indah. Anda perhatikan bagaimana binatang-binatang yang melata seperti ular, seperti semut dan rayap tadi bahwa ia mampu menangkap sinyal Allah dengan menciptaan-penciptaan yang terus tidak henti-hentinya. Juga terhadap tanaman-tanaman juga mengerti bahasa Allah yang berupa tidak suara, Sedang kita sebagai manusia khalifah di muka bumi, bagaimana kita tidak mampu? Bagaimana kita tidak punya fasilitas bahwa kita akan boleh menangkap juga suara Allah ke dalam batin kita walaupun kita adalah orang yang sangat kotor sekalipun. Bagaimana orang kotor tidak mendapatkan petunjuk? Padahal kita boleh mengatakan, "Ya Tuhan, tunjuki hati saya." Saat apa kita mengatakan, "Ya Allah, tunjuki saya. Ya Allah, terangi hati saya." Saat bagaimana kita mengatakan terangi hati saya. Keadaan apa yang terjadi? Kita mengatakan terangi saya. Yaitu keadaan yang sangat gelap. Ketika juga mengatakan, "Ya Tuhan kasihlah kami hidayahkan, karena sulit sekali kami berbuat baik." Ya Allah, allahumakirni minhum nasu. Ya Allah, sabarkan saya, zikirkan saya karena kami adalah selalu lalai. Allahummaimni minhuma jahiltu. Ya Allah kasih tahu Saya alumni kasih informasi saya karena saya adalah orang yang paling bodoh. Jadi apa salahnya orang bodoh mengatakan semacam itu? Apa salahnya orang yang tersesat mengatakan iyaka na'budu wa iyaka nastain ihdinatal mustaqimatina anamta alaihim ghairil magdubi alaihim wadin. Amin. Ya Allah kami bersembah, kami bersujud. Tuntun kami ya Allah. Ya Allah kami sesat. Tunjuki saya jalannya yang lurus. Nah, ini suatu fasilitas untuk kita bahwa memungkinkan orang sesat macam kita, memungkinkan orang yang bingung macam kita, memungkinkan orang yang gelisah datang kepada Allah. Sehingga Allah berkata, "Hualladzi anzalakin mukminin." Dialah menurunkan sakinah ke dalam hati yang gelisah. Jadi, syaratnya pun tidak berat-berat. Yang gelisah silakan datang ke Allah, Allah akan turunkan. yang hati. Allah mengatakan kalaulah tidak ada kekuatanku dan rahmatku kamu semua tidak pernah bersih hatinya selama-lamanya.Akah Allah yang menurunkan: yang membersihkan hati kita. Jadi inilah dasar yang saya gunakan. Mengapa berguru kepada Allah? Saudara-saudara sekalian di dalam berguru ini kita tidak perlu takut kepada setan atau sering mengatakan tanpa manusia yang mendampinginya, setanlah yang akan mendampinginya. Ini persoalan yang sering diperdebatkan. Padahal manusia siapa yang mampu membuka hidayah? Manusia siapa yang membersihkan hati seseorang? Mampukah seseorang itu membuka hidayah. Mampukah seseorang itu memberikan tentang nur? Tahukah dia ketika sang murid jauh dari dirinya kemudian dia berbohong, kemudian dia berzina, kemudian dia salat. Boleh kah kita mencabut setan yang ada dalam diri orang itu? Bahwa berbohong itu juga dari setan. Kemudian berbuat maksiat juga dari setan. Mampukah seseorang macam saya mengambil hati atau kekotoran sang murid tadi sehingga orang itu menjadi terbuka hijabnya atau menjadi orang yang tunduk kepada Allah, dengan apa yang dikatakan kekuatan, nur kita atau kekuatan diri kita sendiri. Sedangkan itu semua telah dibantah oleh Allah. Tidak ada satu pun orang yang mampu memberikan petunjuk kepada falan wali mursyida. Tidak ada satu pun orang mampu memberikan petunjuk kepada siapun. Tapi akulah yang memberi petunjuk kepada Apa saja kata Allah. Jadi inilah dikatakan kesiapan kita, mental kita. Setan tidak akan mampu menembus, setan tidak akan mampu menggoda. Di dalam surat Syad 83 dikatakan, "Ya aku minta izahmu. Aku minta kekuatanmu. Aku mohon izin kepadaMu akan goda seluruh manusia kecuali satu ya Rabb. Kata setan. Orang yang berserah diri. Orang yang berserah diri adalah orang yang mewakilkan dirinya. Allah sebagai wali, Allah sebagai mursyid, Allah sebagai alhadi sehingga setan tidak mampu menerobos wilayah hati yang berserah diri kepada Allah. Bukan orang yang suci. Tapi orang berserah diri kepada Allah. Apapun kita, siapakah kita ketika kita datang, "Ya Allah, aku berlindung kepadamu. Ya Allah, aku minta tuntun. Ya Allah, sinari kami." Sehingga setan mengatakan, "Aku tidak mampu." Nabi Yusuf Alaih Salam di dalam melakukan upaya mencegah kejahatan yang menyusut ke dalam dirinya, yaitu bagaimana agar ia mendakang pencerahan tadi sehingga mengatakan di dalam Al-Qur'an, "Ya Allah, aku tak kuasa, aku tak percaya. Begitu hebatnya dorongan nafsu saya untuk berbuat yang tidak baik ini. Kecuali Engkau, Ya Allah. Atas pertolongan Engkau, Ya Allah, aku boleh menyelesaikan persoalan yang saya rasakan. Begitu hebatnya dorongan nafsu saya. Ini langkah konkret dan sederhananya Al-Qur'an mencoba membawa kita kepada spiritualitas yang sangat sangat tinggi. Sehingga Nabi Yusuf tercegah dikatakan dalam Al-Qur'an linasrifa wal fahsya. Begitulah caraku mengubahkan kesadaran rendahnya menjadi kesadaran tinggi sehingga Nabi Yusuf mampu mengatasi persoalan kejiwaannya atas dorongan-dorongan atau kateksis dalam jiwanya untuk menuju kejahatan. Namun tercegahnya karena ada pencerahan dari Allah Subhanahu wa taala. Ini inti daripada tasawuf. Para sufi banyak melakukan ritual-ritual untuk mendapatkan pencerahan atau nur. Karena Allah sebagai nurin, cahaya di atas cahaya. Maka semuanya akan terselesaikan dengan cara transenden ini. Maka seringkiali mengatakan bahwa kenapa orang berbuat jahat dikatakan tidak tahu diri juga sering kita berbuat melakukan suatu negatif tidak tahu diri. Anak kecil sudah kita rawat sampai besar. Namun kadang-kadang anak kecil ini sudah menjadi dewasa dan sudah sukses. Tidak memberikan balas budi barangkali. Sehingga anak kita itu yang kita rawat tadi mengatakan orang-orang mengatakan bahwa anak itu tidak tahu diri. Kenapa dikatakan tidak tahu diri? Setiap perbuatan yang tidak baik selalu dikatakan tidak tahu diri. Ada satu ungkapan hikmah yang menarik. Man arfsahu faq arbahu. Barang siapa yang tahu akan dirinya yang sejati, maka dia akan tahu Tuhannya. Ini kenapa berkaitan diri kita dengan Tuhan? Apa kaitannya diri saya dengan Tuhan? Sehingga kita boleh mengenal Tuhan. Padahal kita tahu diri adalah apa. Selama ini kita sadari diri adalah tubuh ini. Diri adalah mata ini. Diri adalah ya apa yang saya lihat ini adalah diri. Ada sangat perbedaan yang menarik kalau kita perhatikan dan kita renungkan bahwa di saat saya gelisah itu berada dalam dada kita, hati kita. Kita mencintai seseorang juga terasa di dalam dada kita. Kita benci seseorang pun terasa di dalam diri kita. Kita berbohong, kita iri, kita syirik pun terasa di dalam diri kita. Kepanikan di otak kita pun merupakan sensasi alat dalam tubuh kita, dalam otak kita. Bahwa. Namun kalau kita renungi, namun kalau kita rasakan sekarang kalau Anda meram atau pejamkan mata kita, Anda boleh melihat sensasi dada Anda sendiri bahwa Hati gundh, hati senang. Ternyata ada yang mengamati di atas hati itu. Ketika saya berbohong, ketika hati saya racur pun ada yang mengamati. Dan yang mengamati itu selalu tidak setuju dengan perbuatan hati itu sendiri. Juga di dalam otak saya. Saya mengamati otak saya sedang migrain, mengamati otak saya sedang berpikir. Pun ada yang mengamati. Ada yang melihat. Siapa yang melihat itu? Siapa yang tahu tentang akan diri ini? Sehingga dikatakan inilah diri yang sebenarnya. Diri yang sejati yang tidak pernah gelisah, yang tidak pernah berbohong, yang tidak pernah setuju atas kejahatan-kejahatan diri kita. Siapa yang mengamati? Yaitu sang aku. Sang aku tidak pernah berbohong. Sang aku selalu bercenderung kepada kebaikan, cenderung kepada kesucian. Dan sang aku tidak pernah gelisah, sang aku tidak pernah resah. Itulah sang aku di atas nafsu-nafsu kita. Surat Alqiyamah ayat 14 menyatakan hal ini. Ketahuilah bahwa di atas nafs, di atas diri kita di atas tubuh kita, pikiran kita ada yang mengamatinya. Siapa yang mengamatinya itu? Di saat kita tidur bermimpi kemudian kita dikejar-kejar anjing, kemudian kita bermimpi dengan seseorang bercinta. Namun setelah bangun tidur, kita boleh berceritakan semua kejadian-kejadian itu dengan jelas dan tugas. Siapa yang bercerita itu? Nah, kenapa itu ada? Di saat kita berada, di mana pun selalu ada, itulah yang sejati. Itulah yang aslinya kita, yaitu kesucian. Namun ini masih belum tegas, belum jelas karena masih ngambang di dalam perasaan kita bahwa ada yang mengamati diri kita sendiri, yaitu aslinya kita yaitu arruh. Penjelasan hal ini perlu ditegaskan siapa sang aku? Siapa Allah, siapa semuanya ini terjadi karena ada hubungan langsung yang pernah dihembuskan ke dalam tubuh kita. Setelah disempurnakan tubuh kita dengan penciptaan yang serba sempurna, lalu Allah menghebuskan ruh yang berasal darinya dan kepadanya kita kembali. Ar ruh dikatakan tidak boleh kita persepsi seperti apa. Tapi apa kaitannya ini dengan Allah? Sehingga kita tidak boleh memberikan persepsi apa-apa tentang ruh. Namun kita dikasih ilmu yang sangat sedikit tentang diri kita yang sejati ini. Nah, inilah kita mulai beranjak kepada wilayah yang agak lebih tinggi daripada nafsu-nafsu kita. Ketika kita merasa akan kegelisahan. Ada satu reflek. Kegelisahan itu adalah ingin keluar dari perasaan kita, ingin pergi dari kegundahan hati kita. Apa yang menyebabkan itu? Garizah apa? Garizah tadayun. Garizah kepada kecenderungan kepada Ilahi kembali. Sehingga Allah menegaskan musibah inillahi wa inna ilaihiun. Apabila engkau mendapatkan kegelisahan Ketaknyamanan di dalam hati Anda berupa cobaan-cobaan. Maka sadari sang aku kembali kepada zat sang penguasa. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Kenapa disadari aku dari Allah kembali ke Allah? Maka terlepaslah kita dari ikatan ini. Karena kita menyadari sang aku bahwa sang aku bukan hati, sang aku bukan pikiran. Maka salat pun dikatakanahumai juga dalam surat pun kita menyatakan kembali kepada Allah. Siapa yang kembali kepada Allah adalah aku yang sejati. Aku inilah sebagai esensi daripada spiritual kita, yaitu sejatinya aku pribadi yang selayaknya atau disebut sangkan paraning dumadi. Yaitu kembalinya diri kepada zat sang penguasa alam. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Kita dimotivasi oleh Allah Subhanahu wa taala tentang bagaimana kita untuk mendapatkan suatu getaran, suatu pencerahan. Allah berfirman, "Innakaunikahamulak." Awalnya dikatakan, "Ya ayuhalan, wahai manusia, sesungguh Engkau telah sungguh-sungguh datang kepada saya, kepada Tuhanmu, maka pastilah kamu akan menemuiku," kata Allah. Motivasi inilah bagi seorang spiritualis menyebabkan terus berusaha untuk menempuh bagaimana mendapatkan pencerahan-pencerahan Allah Subhanahu wa taala. Pencerahan ini selalu mendapatkan suatu kelebihan atau dampak terhadap diri. yang mendapatkannya yaitu bagaimana terbukanya hijab sehingga kita boleh syuhud menyaksikan af'al Allah sampai kalam-kalam Allah sampai mencapai kepada zatullah. Allah dalam hal ini juga menerangkan satu persatu langkah-langkah kita bagaimana kita mendapatkan atau merasakan proses itu. Al-Qur'an juga menata tentang proses proses atau prosesi perjalanan spiritualitas seorang sufi yang benar-benar mendapatkan sebuah petunjuk dari Allah Subhanahu wa taala. Ditegaskan,"Amanhallahu Islam, apakah sama orang yang saya bukakan dadanya untuk menerima Islam?" Di sini dijelaskan Islam proses mendapatkannya melalui dibukakan dadanya. Sehingga itulah nur yang disuskan ke dalam jiwa manusia. Maka dikatakan. Celakalah orang yang tidak mampu membuka dadanya, menerima dadanya atas nur itu. Karena dia telah lalai ingat kepada Allah. Bagi orang dibukakan Allah dadanya atau spiritualnya akan mengalami proses taksyairru minhu juludadina bergetar, bergetar dadanya, bergetar kulitnya, merinding seluruh kuduknya saat sentuhan nur ilahi menelusup ke dalam dada sehingga proses itu masuk lagi mencapai suatu proses sinkronisasi antara ruh dan fisiknya. Dikatakan tali Proses ini kadang-kadang bagi orang tidak mengerti akan sangat ketakutan. Sebagaimana Rasul sendiri ketakutan saat menerima wahyu pertama menggigil, merinding, bahkan dikatakan beliau seperti sakit ayam. Epilepsi bergetar saat pertama kali melihat atau turunnya wahyu ke dalam dada Rasulullah. Kejang-kejang beliau disaksikan oleh Abu Ya'la dan kawan-kawan di Inilah menjadi anak alasan orang-orang Barat mengatakan Rasulullah sakit jiwa. Bahkan Salman Rusdi membuat novelnya mengatakan Muhammad telah kerasukan jiwanya oleh setan dalam novelnya Satanic Verses. Ternyata ini keliru bahkan dibantah oleh para spiritual, para peneliti dihafal bahwa spiritualitas itu memang akan memberikan dampak kepada otaknya atau bahkan Lean menyatakan dirinya menyatakan dalam bukunya bagaimana bermeditasi. Ternyata orang spiritual ketika melakukan suatu aktivitas rohaninya akan memberikan dampak kepada tubuhnya. Banyak listrik yang mengalir lebih dari 400 kali lipat dari biasanya. Ini yang membuat pertama kali kenapa beliau bergetar? Karena otaknya terpenuhi oleh daya atau energi listrik yang begitu hebatnya. Ini sementara penelitian semacam itu. Tapi kita abaikan itu. Tapi kita bicara masalah bagaimana Allah memproses kejiwaan kita di dalam berspiritual. Salman al-Farisi dan Bilal disebutkan di dalam Al-Qur'an sebagai asbabun nuzulnya Al-Qur'an. Bah dikatakan ketika beliau mendengarkan Al-Qur'an dibacakan, disebutkan yang Maha Rahman, maka dia jatuh tersungkur karena dampak getaran suara itu memuat firman-firman ilahi yang mengguncangkan jiwanya. Maka Tergetarlah Salman, tergetarlah Bilal. Maka tanpa disadari tersungkurlah dia. Aminu bih aau. Inalladina utul minqli yakirqan sujada. Mereka-mereka itu dikatakan saat menghina Rasulullah, para orang kafir, Allah memberikan nasihat kepada Rasul. Katakan ya Rasul kepada mereka orang munafik itu beriman atau tidak beriman terserah kalian. Tapi kami memiliki sahabat-sahabat, orang-orang yang terdahulu. Mereka itu jika disebut nama Allah, di sini disebutkan juga Waraqah bin Nafal, ketika disebut yang Maha Rahman, dia merinding, jatuh tersungkur lalu menangis. Juga dalam surat Maryam dikatakan ayat 54 58 bahwa wimpan hadaina wajadaina Ketika disebut nama yang Rahman, mereka-mereka itu orang yang dibukakan hidayahnya sontak jatuh tersungkur lalu menangis. Ini proses di mana proses ini sering didapat para sahabat Nabi Rasulullah sallallahu alaihi wasallam sehingga ia mendapat suatu keyakinan-keyakinan langsung yang menelusup ke dalam batinnya. Barangkali kita harus memasuki pula tentang keimanan ini bukan sekedar kepada batasan-batasan fikih luarnya saja, tetapi kita mencoba syariat sebagai sarana menuju hakikat. Bukan sebaliknya, tujuan kita adalah menunggangi sarana tanpa tujuan apa-apa. Para spiritualis dalam Al-Qur'an ketika memasuki wilayah iman selalu menggunakan kata-kata yang bukan kalimat perintah dan bukan kalimat larangan, tetapi bentuknya adalah keadaan atau experience. Seorang yang mendapatkan rasa khusyuk atau orang yang mendapatkan rasa Iman ayat atau kata yang diawali adalah selalu menggunakan kata innama menunjukkan suatu keadaan. Kalimat ini bukan kalimat perintah. Sama dengan kata penjelasan ini merupakan suatu pengalaman yang dirasakan oleh orang-orang mukmin bahwa cirinya adalah bergetar. Syinya adalah jika disebut nama Allah dia jatuh tersungkur lalu meraung-raung menangis histeris. Itu tidak bisa diciptakan oleh pikiran kita. Tapi ini karena sontak hati kita. Adanya pengalaman batin kita atas nur telah mencerahkan hati kita. Untuk mendapatkan ini adalah bagaimana kita akan menghubungkan diri kita kepada Allah. Bagaimana kita mencapai satu komunikasi antara kita dengan hamba dengan Allah? Sang hamba inilah yang hadir datang. Sang hamba inilah yang memohon diturunkan itu rahmat itu. Sudah banyak penegasan itu. Namun kita sampai batasan membaca dan membaca kembali tapi tidak masuki kepada sebuah pengalaman-pengalaman. Nah, untuk mendapatkan inilah Allah menugaskan kembali bahwa aku dekat. Apabila hamba-hambaku bertanya tentang aku, katakan, "Sadarkan mereka, aku dekat, tak usah atau jangan ragu." Ah, inilah yang perlu kita mulai. Bagaimana kita menyadari bahwa Allah dekat dan Allah memberikan suatu jawaban-jawaban atau tuntunan-tuntunan yang sering kita baca dalam Alfatihah. Iyaka na'budu wa iyaka nastain. Ihdinatal mustaqimatadina anamta alaihim ghairil magdubi alaihim. Kami bersembah, kami mohon tuntunan dan kami mohon diberi jalan yang lurus agar kami tidak belok dan tidak sesat. Inilah jalan spiritual. Allah menegaskan kembali, "Kalau engkau datang sejengkal, aku akan datang sehasta. Kalau engkau datang dengan cara berjalan, aku akan lebih cepat," yaitu dengan cara berlari. Sehingga kita ada sebuah pertemuan. Ketika ada pertemuan inilah, maka engkau akan mendapatkan cintaku. Pendengaranmu adalah pendengaranku. Penglihatanmu adalah penglihatanku. Kalau engkau berjalan dengan kakiku, kalau engkau berucap dengan kata-kataku. Inilah hasil daripada spiritual dimasuki lebih dalam akan mendapatkan langsung pengenalan makrifatullah kepada Allah. Jadi bukan lagi rekayasa pikiran tapi sebuah pengalaman batin. jiwa penghan ruh karena ruh inilah yang pertama kali mengenal Allah disebutkan, "Tidakkah kau kenal aku? Tidakkah aku ini Tuhanmu?" Ruh bersaksi mengatakan, "Tentu ya Allah, aku menyaksikan. Aku makrifah, aku syuhud, aku syahadah." Sekarang diingatkan bahwa sang ruh inilah yang pertama kali mengenal Allah. Maka dia tidak asing lagi jika didorong kita stimulasi kembali, kita sadarkan kembali, kembali ke Allah, kembali ke Allah. Dan Allah mengingatkan kepada kita apabila punya musibah, punya masalah, bukan ini tempatmu. Karena ini kesengsaraan, tempat Anda tertekan maka kembalilah asal musibah. Aku asalnya dari Allah dan saya kembali ke Allah. Maka lambut laun perdetik, detik berdetik anda menanggalkan keterikatan atau unbinding problem terhadap persoalan ini sehingga kita tidak lagi merasa gelisah khawatir alaihim wum yahzanun karena sang aku memang bukan hati bukan perasaan sang aku berada di atas itu semua sang aku inilah alat sarana kembali mikraj silatun atau shatun sehingga dialah yang mampu menemui Tuhannya liqa dan Allah. Nah, inilah yang disebut zikir tertinggi. Zikir adalah kesadaran jiwa yang tinggi. Ingatlah Allah, sadarkan dirimu yang paling dalam kepada Tuhannya. dengan rendah hati, dengan tidak mengeraskan suaranya sehingga yang bergerak seperti bergeraknya saat sakaratul maut. Irji dikatakan kepada ya ayat tuhan nafsul mutmainnah irji lari pergi dengan rela sehingga Allah meridai apanya yang pergi jiwa sang aku kembali kepada Allah sang aku menuju kepada Inilah zikir yang tertinggi. Inilah sirnya zikir. Bukan lisan tetapi jiwa ruh. Kita praktikkan dalam waktu dekat bahwa kapanpun kita melakukan ini, saat kita tidur, saat kita duduk santai, sadari sang aku kembali sebut nama Allah. Ya Allah hubungkan terus. Karena Allah mengatakan, "Fadkuruni adkurukum." Ingatlah Allah, aku juga ingat kamu. Para spiritualis, kita mencoba bagaimana memasuki wilayah spiritual itu sendiri, yaitu dengan memasuki pengalaman-pengalaman batin kita sendiri atas bagaimana Allah menuntun rasa kita, menuntun jiwa kita. Untuk itu, kita boleh mencobanya di mana saja Anda berada. Ketika di kenderaan pun boleh Anda lakukan ketika Anda setelah melakukan salat. Sebagaimana dikatakan Alquran, "Apabila engkau telah selesaikan salat, maka jangan lupa ingat Allah. Posisi berdiri, posisi berduduk, maupun berbaring sampai mendapatkan suatu keadaan yang aman, tenang, tentram, maka lalu lakukanlah salat kembali. Hal ini zikir yang kita lakukan zikir yang bersifat bebas menjelang tidur ataupun dalam waktu keadaan rileks. Bagaimana kita melakukan zikir itu sendiri? Yaitu caranya adalah di dalam diri kita sadari kembali bahwa sang aku tadi sang aku berasal dari Allah. Sang aku inilah yang memulai berangkat menuju Allah. Seperti halnya atau bayangan kita adalah saat kita dipanggil Allah, saat bayangan kita berada di tempat yang sangat tragis atau mengalami kesulitan di tengah lautan. Maka rasa jiwa kita itulah yang menggebu-gebu, mengarah kepada Allah. Hanya Allah, hanya Allah. Hanya Allah yang kita akan tuju. Jadi sikap ini pun dilakukan oleh Bilal, yaitu saat beliau ditekan oleh majikannya untuk keluar dari Islam. Tapi beliau tetap bertahan dengan mengucapkan ahad, ahad, ahad, ahad. Sang ahad inilah tujuan daripada Bilal. Jadi yang satu, yang maha tunggal, yang maha esa. Ini yang suatu kekuatan Bilal sehingga beliau mampu mengatasi kesulitannya baik fisik maupun rohaninya. Sikap totalitas inilah yang kita lakukan sekarang. Untuk berada di dalam posisi ini seseorang itu jangan melakukan perkara-perkara yang apabila dilakukan akan menyebabkan berlakunya sebarang perbuatan syirik. Untuk mendorong supaya tidak melakukan perkara-perkara yang apabila dilakukan akan menyebabkan berlakunya sebarang perbuatan syirik, terlebih dahulu seseorang itu mesti tahu, boleh menghurai dan menerangkan apa itu syirik, pembahagiannya dan apakah perkara-perkara yang apabila dilakukan akan menyebabkan berlakunya sebarang perbuatan syirik. Anda ambil wudu, pakaian bebas atau yang paling rileks, tidak tegang. Kita lakukan betul-betul dari hati kita yang dalam. bahwa kita merasakan kehadiran jiwa kita kepada Allah. Pertama-tama hilangkan semua pikiran-pikiran bahwa kita tidak mampu, bahwa kita akan kesulitan hilangkan pikiran itu. Kita mesti yakin bahwa kita menghadap Allah, biarkan Allah yang nuntun saya. Apapun dosa Anda, apapun kesalahan kita, tetap kita akan lakukan datang kepada Allah. Bukan tidak boleh sama Allah. Allah akan mengatakan Aku yang membuka hidayahmu. Aku yang menuntun dan aku yang membersihkan hati kalian. Percayalah dengan ayat ini sehingga kita tidak ragu-ragu lagi mengatakan kita mesti bersih hati dulu menuju Allah. Kita mesti tobat dulu menuju Allah. Tobat bukan berarti kita merenungi kesalahan kita berlarut-larut. Arti tobat adalah kembali sekarang kepada Allah. Mengatakan, "Ya Allah, nafsuku terlalu besar untuk selalu mengajak yang tidak baik." Sikap ini yang dilakukan oleh Nabi Yusuf alaihi salam. Mari kita lakukan. Apapun keadaan kita, apakah kita libido kita naik apa emosi kita naik, tetap kita diam sejenak. Diam sejenak agar Allah mencerahkan hati kita. Kembali mengikut firman Allah di dalam Al-Quran pada surah
Yang cara untuk melaksanakan perintah diatas ialah mengikut apa yang tersurat dan apa yang tersirat pada Surah Al-Muzammil ayat 8 Dan sebutlah (dengan lidah dan hati) akan nama Tuhanmu (terus menerus siang dan malam), serta tumpukanlah kepadaNya dengan sebulat-bulat tumpuan. Yang cara untuk menyebut nama tuhanmu dengan atau melalui lisan lidah, boleh dilakukan mengikut firman Allah pada Surah Al-'Isrāk ayat 110 Katakanlah (wahai Muhammad): "Serulah nama " Allah" atau nama "Ar-Rahman", yang mana sahaja kamu serukan (dari kedua-dua nama itu adalah baik belaka); kerana Allah mempunyai banyak nama-nama yang baik serta mulia". Dan janganlah engkau nyaringkan bacaan doa atau sembahyangmu, juga janganlah engkau perlahankannya, dan gunakanlah sahaja satu cara yang sederhana antara itu. Dan melakukan perintah Allah yang tersurat dan yang tersirat didalam firman Allah pada 7.Surah Al-'Akrāf ayat 205 Dan sebutlah serta ingatlah akan Tuhanmu dalam hatimu, dengan merendah diri serta dengan perasaan takut (melanggar perintahnya), dan dengan tidak pula menyaringkan suara, pada waktu pagi dan petang dan janganlah engkau menjadi dari orang-orang yang lalai. Dengan cara menyebut nama Allah secara tersembunyi didalam hati yang dilakukan mengikut sepertimana Saidina Ali Rodziallah hu'an hu Bertanya kepada Rasulullah bagaimana aku nak hampir dengan Allah ya Rasulullah. Rasulullah menjawab mari dekat dengan aku ya Ali hingga bertemu lutut. - Pejamkan mata mu, - Tongkat kan lidah mu ke langit2, - sebutlah nama Allah sebanyak2nya Yang dilakukan Sehingga berlakunya penyaksian dan pengakuan kepada sifat ketuhanan Allah, penyaksian dan pengakuan kepada Allah seterusnya penyaksian dan pengakuan kepada Allah yang mengenal Allah, iaitu keadaan dimana Allah yang merasa akan keberadaan Allah. Para spiritualis dan para sufi, kita mencoba kembali duduk rileks, santai, tapi keseriusan jiwa kita sepenuhnya kita hadirkan kepada Allah. Saat kita berzikir, "Ya Allah, ya Allah, ya Allah, ya Allah." Barangkali akan sangat berbeda jika kita mengatakan hati kita yang paling dalam mengarahkan jiwa kita. Ya Allah, ya Allah, ya Allah, ya Rahman. Akan sangat berbeda ketika Anda kesulitan nantinya barangkali begit Ini sangat sulit karena kita menunduk. Kemudian otak curi kita yang mungkin bekerja yaitu otak hitungan yang bekerja tapi yang holistik tidak berjalan. Yang holistik ini adalah wilayah atau daerah yang mempunyai sensor, yang mempunyai naluri untuk berketuhanan, yaitu intuisi dan spiritual. Maka kita gabungkan antara bacaan dengan rasa ini sehingga akan tercapai satu kesinambungan rasa getaran menggetar. Namun kalau kita lakukan hanya ya Allah, ya Allah, ya Allah, ya Allah, ya Allah, biasanya gagal. Dan kita akan lakukan kesempurnaannya menyebut nama Allah dalam hati dengan rasa tadaru, yaitu rasa spiritual kita, rasa emosi kita, rasa percaya kita kepada Allah, keyakinan kita kepada Allah sehingga kita akan menemukan satu getaran. Karena inilah kesambungan dua potensi dalam otak kita ini. Maka satu waktu yang kita ambil, waktu senggang di rumah, di pejabat, maupun di tempat Anda yang Anda sukai, maka ambillah wudu kemudian ucapkanlah dalam hati kita syahadat, kemudian selawat. Nah, mari kita coba kita bersama-sama heningkan pikiran kita. Saya akan lakukan sikap-sikap kejiwaan saya pada saat berzikir. Sikap inilah yang Anda ikuti sehingga kita akan merasakan bagaimana sentuhan itu akan terjadi. Dan pengalaman kejiwaan saya akan saya utarakan kepada Anda. Auzubillahiminasyaitanirrajim. Bismillahirrahmanirrahim. Ashadu alla ilahaillallah wa ashadu anna muhammadar rasulullah. Allahumma sholli ala Muhammad wa ala ali Muhammad. Pada posisi ini, jiwa saya pelan-pelan saya arahkan menuju kepada Allah. Saya arahkan hanya kepada Allah. Saya luruskan. Saya panggil Allah sekuat-kuatnya dalam batin saya. Ya Allah. Sekuat-kuatnya ya Allah. Setotal-totalnya ya Allah. Kemudian saya pertahankan. Saya angkat tangan saya untuk memohon tuntunan Allah. Untuk memohon terus, "Ya Allah, tuntun saya. Ya Allah, Bimbing saya ya Allah. Tarik roh saya ya Allah. Kalau saya tidak tahu di mana Engkau. Saya pada batasan ini. Biarkan Allah mengalirkan ketenangan, biarkan Allah mengalirkan petunjuk. Biarkan Allah menuntun roh saya sehingga mikraj sehingga naik berangkat terus dengan Allah dengan tuntunannya dengan sinahnya. Biarkan bergetar tubuh kita biarkan saja tersalah. Biarkan kita diproses oleh Allah. Biarkan kita dibuka dada kita. Sehingga kata Allah akan bergetar tubuhmu, hatimu, bergetar jiwamu sampai mencapai keadaan proses ketenangan dalam jiwa, proses tubuh, pikiran, dan hati. Satu dalam zikir. dalam kepasrahan kepada Allah, dalam ketundukan kepada Allah dan jiwa terus mengalir. Tuntunan rasa berupa sinar ilahi yang membawa roh kita menuju kepadanya. Subhanallah, walhamdulillah, walailahaillallah wallahu Akbar. Allahu Akbar. Subhanallah. Walhamdulillah. Walailahaillallah. Wallahu akbar. Subhanallah. Walhamdulillah walailahaillallah wallahu akbar. Anda boleh mencoba di rumah. Insyaallah kalau itu Anda lakukan serius. Betul kata Allah akan digetarkan hatinya. Orang mukmin disebut nama Allah akan terguncang hatinya, terkesima. Bahkan lebih dalam lagi jatuh tersungkuh. Tafsir Safatut Tafasir menjelaskan menafsirkan tentang masalah ayat ini bahwa Allah ketika memberikan hidayah, manusia yang mukmin akan tersungkur, jatuh lalu pingsan. Ini mudah-mudahan sebagai sarana kita. jalan kita berspiritual melakukan zikir yang akan dirasakan langsung kepada pelakunya. Janji yang telah di janjikkan oleh Allah kepada orang yang melaksanakan perintah "BUNUHLAH DIRI KAMU" terdapat didalam firman Allah pada
Telah lengkap — seluruh sumber asal dikekalkan tanpa pengurangan. Semoga dengan berguru langsung kepada Allah Al-Alim, hati yang gelisah diturunkan sakinah, dada dibukakan, dan roh kembali mikraj kepada-Nya.